Linguapreuner Indonesia

mengabadikan perenungan dalam kata-kata.

Monday, April 01, 2019

Catatan Sang Penyendiri Fragmen 2



Hai. Rasanya menyenangkan bisa menyempatkan waktu menulis lagi. Saya jadi merasa punya tempat untuk menceritakan apapun yang saya mau. Karena meskipun saya seorang penyendiri, saya tetap punya keinginan untuk dapat berbagi dan saling bertukar kisah pada siapa saja.
Ini hari Senin, dan kalau ngomong soal hari Senin, pasti identik sama kesibukan. Ngomongin kesibukan, identik sama kerjaan yang menumpuk dan belum selesai-selesai. Ujung-ujungnya ngarah ke mood yang perlu dibangun agar kuat menghadapi kenyataan.

Ralat, maksud saya menghadapi hari senin.

Saya sendiri merasakan betul jika hari senin kondisi mood saya lebih susah diatur ketimbang ketika hari Selasa, hari Rabu, apalagi weekend, pastinya. Seolah ada atmosfir yang tercipta entah bagaimana caranya. Segala hal yang entah bagaimana caranya tercipta bisa dikategorikan gaib. Seperti soal jodohmu dan jodohku. Eh.

Ini pendapat saya sendiri barangkali mengenai hari senin dan mood. Sah-sah saja buat ditanggapi.
Jadi, sebagai seorang penyendiri, kondisi mood yang naik-turun dan susah untuk diatur adalah masalah krusial. Mood saya kalau boleh dibilang, gampang berubah, kayak anak labil. Penyebabnya bisa dibilang lantaran saya sedikit bergaul, akibatnya pikiran kurang dapat dialihkan untuk mengantisipasi arus pikiran negatif yang biasanya diendus-endus sama Roy Kiyoshi.. Bahkan pernah saya selama tiga hari saya habiskan dengan diam. Tanpa bicara apapun. Namanya juga penyendiri. Bayangkan, apa rasanya.

Padahal berbincang-bincang merupakan kebutuhan bagi manusia. Saking butuhnya, itu mungkin motif sebagian orang melakukan komunikasi dengan makhluk halus. Bukan, kok. Berbincang-bincang bisa dikatakan sebagai salah satu cara untuk menjaga keteraturan mood.

Makanya saya sadar betul apa yang menyebabkan mood saya menjadi tidak teratur. Anehnya, meskipun saya tahu, tetap saya mengalami kesulitan mencari pemecahannya. Minimal mencari teman untuk ngobrol atau apalah. Atau belajar melakukan kontak dengan makhluk halus, lagi-lagi. Tapi seperti yang saya katakan di tulisan sebelumnya, topik obrolan saya kebanyakan hal-hal yang serius.
Jadi, kapan nih mau diseriusin? Ehm.
Tapi, saya percaya selalu ada cara alternatif. Mungkin ini hikmah pentingnya dari keterbatasan yang saya alami. Konyol juga kalau dipikir-pikir. Saya jadi merasa harus mencari cara lain untuk menyelesaikan persoalan ini supaya tidak berlarut-larut. Saya pun memutar akal, dan menjadikan saya banyak akal.
Agak sombong ya. Padahal naif.

Jadi kali ini, saya mau berbagi sedikit kiat untuk mengatur mood ala saya. Ala-ala orang penyendiri. Namun, bagi saya sendiri ini bukan cara yang benar-benar ampuh setiap saat. Jadi sifatnya sementara. Saya anggap biar saya terus memikirkan cara-cara yang semakin banyak variasinya. Soalnya saya jenis orang yang butuh banyak cara untuk menyelesaikan persoalan. Semacam itulah.

Cara pertama yang akan saya bagikan adalah menyetel musik sekeras mungkin. Tapi pakai headset. Lagu yang saya putar biasanya Trouble Is a Friend Lenka. Kalau masih belum berhasil juga, saya akan cari lagu yang temponya mirip atau memainkan instrumen yang saya suka. Misalkan lagu sebelumnya menggunakan piano, maka lagu selanjutnya juga harus ada instrumen pianonya. Kalau mentok saya beralih ke musik klasik. Biasanya setelah lima atau enam lagu, mood yang saya rasakan berangsur-angsur membaik.

Oh iya, biasanya saya denger musik sambil minum kopi secangkir. Ngebon di warung sebelah.
Kalau cara yang pertama gagal, atau kurang manjur, saya nonton film. Tapi, berhubung saya bukan tipe orang yang suka nonton film, koleksi yang saya punya juga terbatas, jadi filmnya itu-itu melulu. Buat film favorit saya, lain kali saya bahas. Yang jelas genre film yang selalu saya tonton biasanya tentang biografi seseorang, bukan profil makhluk halus. Bisa dikira-kira sendiri.
Kalau nonton film biasanya saya sambil bikin mi instan.

Kalau cara kedua juga mental, saya masih ada cara ketiga. Agak absurd kalau yang ini. Tapi memang kadang saya lakukan juga. Yaitu nongkrong di kamar mandi. Namun jangan salah sangka, kamar mandi di tempat saya bersih, kinclong, dan saya pilih-pilih sekali soal kamar mandi kalau misal harus pindah kost, atau tinggal dimana gitu.

Kenapa kamar mandi? Karena menurut saya disanalah tempat yang paling menjamin privasi. Konyolnya. Terus apa yang saya lakukan dikamar mandi? Baca komik. Ya intinya saya mencari privasi total.

Maaf ya, saya bukan apa yang mungkin dibayangkan orang soal melakukan sesuatu di kamar mandi, dalam tanda kutip.

Terus, cara lainnya yang saya lakukan untuk mengatur mood. Pergi ketempat yang tinggi. Lagi-lagi jangan bayangkan hal liar tentang tempat yang saya tuju. Terus terang, saya orangnya takut tempat tinggi, jadi kecil kemungkinan saya bakal loncat dari sana. Namun, karena tempat tinggi adalah salah satu fobia saya, sensasinya itu bikin mood saya terasa di restart.

Naik ke tempat tinggi terus lihat kebawah. Serem dong, bikin jantung deg-degan. Jadinya mundur beberapa langkah. Karena jantung yang deg-degan segitu kencangnya, pas udah normal lagi tiba-tiba mood udah lebih enak rasanya.

Perasaan jadi lega. Kayak abis ngapain gitu.

Poinnya gini, supaya perasaan jadi lega salah satu caranya adalah menghadapi ketakutan diri sendiri.
(saran saya cari ketakutan yang wajar, kalau rasa takut yang dimiliki misalnya sama pacar sendiri, itu udah beda cerita ya. Aneh juga kan, masa biar bisa dapat perasaan lega, terus sengaja jalan sama perempuan lain dan ketahuan sama si pacar. Terus cari-cari alasan supaya dia mau maafin.)
Dan cara terakhir dari saya. Tidur. Kalau susah tidur, minum pil sakit kepala, atau pil anti mabuk kendaraan. Ini cara kesukaan saya.

Sebab ini kesukaan, tidur menjadi cara yang juga paling saya hindari. Demi menjaga keistimewaannya. Coba, apa enaknya melakukan hal kesukaan terus menerus?

Dari apa yang udah saya jabarkan diatas, menurut saya mood booster bukan harus hal yang mahal kok. Kadang kita sebenarnya perlu membuka wawasan terhadap banyak hal yang diluar dugaan, mungkin bisa membantu saat mood perlu ditata. Persoalan ini sedikit banyak ada hubungannya ke pikiran, yaitu cara untuk mensugestikan sesuatu dalam diri kita sehingga menghadirkan sebuah perasaan yang dibutuhkan oleh diri kita untuk tetap produktif dan memenuhi semua tanggung jawab yang dimiliki.

Sugesti. Maknai kata tersebut sebagai sebuah tindakan untuk berinteraksi pada diri sendiri. nyatanya kalau memang manusia butuh berinteraksi satu sama lain, dengan cara berbincang-bincang, misalnya, tentu saja manusia juga perlu berinteraksi dengan diri sendiri.

Gitu ya. Udah sore. Nanti dilanjut lagi.

Sunday, March 31, 2019

Catatan Sang Penyendiri Fragmen 1

source image from freepik.com
Penyendiri. Jarang terlihat berkumpul bersama teman. Orang mengatakan saya tidak bergaul. Asosial.
Saya bukannya merasa tak membutuhkan orang lain di sekitar saya. Terus terang saya senang punya kawan, paling tidak teman bicara. Berbagi banyak hal yang pernah dialami oleh masing-masing dari kami merupakan sesuatu yang setiap saat ingin dilakukan. Hanya saja, belakangan saya menyadari bahwa saya lebih sering sendiri. Seorang diri dalam banyak hal. Apakah saya terbiasa mandiri, tidak juga. Namun saya berpikir lebih jauh mengenai kapasitas tiap orang tentu berbeda-beda, dan itu merupakan alasan bagi kehidupan untuk menempatkan kita dalam peranannya masing-masing.

Saya masih dapat mengingat berapa banyak orang yang betul-betul menjadi teman dalam hidup saya. Dari kala saya belia, hingga di usia saya sekarang, jumlah teman yang saya miliki betul-betul tak melebihi hitungan jari. Jelas kondisi tersebut mencengkeram saya dalam rasa sepi. Sunyi dan rasa sepi terus menerus hadir mengisi waktu saya.

Orang mengenal saya sebagai sosok yang kaku. Kurang luwes dan cenderung membicarakan hal-hal serius. Saya juga kurang nyaman menjadi sorotan orang lain. Komentar yang sempat saya dapat terdengar bernada cemoohan. Seolah dalam diri saya terdapat sesuatu yang berbeda namun hal itu tidak dapat diterima oleh yang lain. Padahal ada ungkapan begini, ‘hanya karena berbeda, bukan berarti hal itu keliru.’ Maka, seiring bertambahnya usia, meski sempat saya menyesalkan dan mengeluhkan keadaan saya ini, perlahan-lahan saya pun merasa lebih baik mengatakan bahwa memang inilah saya dan kepribadian saya.

source image from freepik.com
Maaf, ini bukan curhatan. Ini lebih tentang bagaimana saya berusaha memahami diri saya sendiri. karena memang yang harus mengerti diri sendiri, ya bukan orang lain. Setuju?
Memang dalam hidup ini, membina hubungan dengan banyak orang sudah menjadi keharusan. Siapa coba yang bisa hidup sendiri? akan tetapi, dengan tetap mengenal batasan terhadap apa yang menjadi pandangan kedepan kita secara pribadi, mengenai apa yang ingin kita raih di waktu mendatang sudah tentu mengarahkan kita untuk selektif memasuki suatu hubungan. Pertemanan ataupun relasi lainnya.
Dalam hal apapun, selalu ada sisi baik dan sisi buruk. Siapapun pasti mengerti mengenai itu.

Kalau bagi saya, memilih teman bukan gaya saya. Membatasi pertemanan mungkin iya. Memahami ini sebenarnya membutuhkan waktu bagi saya, dari merenungkannya. Termasuk memahami dan kemudian menerima bahwa sepi menjadi salah satu bagian tak terpisahkan dari hari-hari yang saya jalani. Toh bukannya saya tak punya sosok teman dalam hidup. Dan jika harus mengeluhkan sepi yang saya anggap menyiksa saya, saya berusaha mengingat bahwa kadang-kadang orang mengalami rasa tak nyaman bahkan dikarenakan ia tidak mendapatkan kesunyian dalam hidupnya.
Jadi, hidup memang soal menakar banyak hal. Disatu sisi siapapun menginginkan dikelilingi oleh orang lain, disisi lain pun orang juga membutuhkan keadaan hanya bersama dirinya sendiri. sunyi dan menyepi. Jauh dari keramaian.

Pemahaman bahwa hidup yang harus menakar, atau berimbang, saya dapat dari mendalami linguistik. Untuk dicatat, saya bukan pakar, ilmu saya juga tidak terlampau dalam. Ini hanya logika anak jurusan bahasa.

Jadi begini, tiap kosakata memiliki definisi. Tiap bahasa memiliki perbendaharaan kata yang murni berasal dari penuturnya. Hal tersebut dikarenakan adanya fenomena yang terjadi, juga ada objek yang berasal dari tempat dimana suatu bahasa digunakan. sehingga kata menjadi bentuk penamaan untuk masing-masing fenomena, ataupun objek yang ada.

Kasih contoh aja kali ya.

Kata ‘Ibu’, dalam bahasa Indonesia, adalah penamaan untuk perempuan yang melahirkan, membesarkan, dan merawat kita. Kata tersebut juga muncul variasinya di setiap bahasa yang ada didunia ini. Mengapa? Karena sosok tersebut memang ada di seluruh dunia. Memangnya ada tempat yang tidak mengenal sosok ibu? Hampir dipastikan tidak.
Sementara, saya ambil contoh, kata ‘Orangutan’, ‘Komodo’, ‘Rambutan’ dan ‘Durian’. Keempat kata tersebut merupakan objek yang familiar bagi masyarakat Indonesia. Namun, tidak di tempat lain. Soalnya memang hanya ada di Indonesia. Bandingkan dengan ‘Kucing’, ‘Anjing’, ‘Apel’, ‘Anggur’, yang seperti kata ‘Ibu’, juga memiliki sebuatnnya sendiri di tiap bahasa.
Lantas apa hubungannya dengan pembahasan diatas ialah bahwa banyak setiap fenomena ataupun objek yang dapat dibahasakan dan ditemui, katakanlah di negara ini, besar kemungkinannya fenomena dan objek tersebut memang menjadi bagian dari kehidupan disini.

Maka kembali pada soal kehidupan yang berimbang. Kondisi seperti keramaian dan kesunyian keduanya jelas adalah  dua kata yang murni berasal dari bahasa Indonesia. Juga memiliki istilah yang berbeda di bahasa lainnya. Sebab, di satu titik, seseorang akan mendpatkan kondisi tersebut, dengan ataupun tanpa diinginkan. Keramaian dan kesunyian bisa terjadi dimanapun juga dirasakan dan dialami oleh siapapun.  

source image from freepik.com
Inilah yang saya pahami dan membuat saya akhirnya mampu berdamai dengan keadaan-keadaan tersebut. Walau toh pada akhirnya saya pun pernah merasa kesepian juga. Tetapi saya lebih mencoba menerimanya. Saya tahu ada yang bisa saya lakukan dengan semua keadaan-keadaan tersebut. Saya anggap dengan kesunyian, saya memiliki ruang dan waktu untuk mengolah pikiran saya. Bukan hal yang sepenuhnya jelek jika hidup ini dihabiskan dengan menyendiri, meskipun itu juga akan sangat berdampak buruk bila melampaui batas. Oleh karenanya, mengingat batasan dan menyadari apa yang dalam hidup ini ingin kita raih akan membantu kita menyikapi kapan ramai atau sunyi itu kita butuhkan.  Jadi bagi saya, wawasan yang saya miliki mengenai bahasa lah yang banyak membantu saya melihat dengan banyak sudut pandang. Termasuk mengenali diri saya sendiri dan apa yang saya inginkan dalam kehidupan saya.

Oke. Cukup untuk kali ini. Masih banyak yang akan saya tuliskan lagi. Sampai jumpa.

Thursday, November 01, 2018

About Me



Seorang penulis, penggemar bacaan, penggemar game, penyuka film yang seringkali menikmati ulang apa yang menjadi favoritnya. 

Wednesday, August 01, 2018

Disclaimer


Semua konten didalam blog ini bertujuan untuk menghibur serta mengajak para pembaca saling berbagi wawasan. Tidak ada unsur penjiplakan didalam tiap konten blog ini. Orisinalitas penulisan menjadi bentuk komitmen kami dalam menghadirkan konten konten menarik di blog ini.





Friday, April 13, 2018

Contact

Publisher :
Linguapreneurid


Contact :
allaboutstory82@gmail.com